hujan salju

Tampilkan postingan dengan label valokuvaus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label valokuvaus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Desember 2013

Macro Photography

40 Interesting Examples of Macro Photography


Share
There is nothing quite as refreshing as changing your perspective. When things are rough, sometimes it helps to look at things from another angle simply because you might be surprised at what you find. The same is true with photography; changing your view allows you to capture something in a new light. Cracks, turns, folds, and holes are reborn when you look at them with a new set of eyes.
As you view the following 40 images, embrace the magic of ordinary things. A seashell becomes a swirling castle, a blade of grass stands tall like a soldier, and a tiny insect becomes as big as a dragon. Take advantage of every nook and cranny, for this gives everyday items a touch of mystery.
Glundubh

Tight Spots


View Exif Data


Daniel*1977

Tight Spots


View Exif Data


Patrick Iven

Tight Spots


View Exif Data


Patrick Iven

Tight Spots


View Exif Data


Todd Beltz Photography

Tight Spots


View Exif Data


Pablin 79

Tight Spots


View Exif Data


Pablin 79

Tight Spots


View Exif Data


Daniel*1977

Tight Spots


View Exif Data


Glundubh

Tight Spots


View Exif Data


Patrick Iven

Tight Spots


View Exif Data


Flixelpix David

Tight Spots


View Exif Data


Bloomgal

Tight Spots


View Exif Data


Daniel*1977

Tight Spots


View Exif Data


Daniel*1977

Tight Spots


View Exif Data


Glundubh

Tight Spots


View Exif Data


PPatrick Iven

Tight Spots


View Exif Data


Patrick Iven

Tight Spots


View Exif Data


Pablin79

Tight Spots


View Exif Data


Vincent Nobel

Tight Spots


View Exif Data


Patrick Iven

Tight Spots


View Exif Data


Julie Rideout

Tight Spots


View Exif Data


Patrick Iven

Tight Spots


View Exif Data


Ssserpent

Tight Spots


View Exif Data


Dbnunley

Tight Spots


View Exif Data


Sarosa11

Tight Spots


View Exif Data


Jochenvde

Tight Spots


View Exif Data


James Drury

Tight Spots


View Exif Data


Patrick Iven

Tight Spots


View Exif Data


Patrick Iven

Tight Spots


View Exif Data


Urban.Photography :-(away with bad wifi)-:

Tight Spots


View Exif Data


James Drury

Tight Spots


View Exif Data


Shutterdog64

Tight Spots


View Exif Data


Krystian_o

Tight Spots


View Exif Data


Anuma: Bee-Zee

Tight Spots


View Exif Data


Almost a Crayon

Tight Spots


View Exif Data


Ssserpent

Tight Spots


View Exif Data


Pablin 79

Tight Spots


View Exif Data


Apainterinahurry

Tight Spots


View Exif Data


Rina B

Tight Spots


View Exif Data


Ssserpent

Tight Spots


Read More

Still Life Photography

Fotografi Still life tanpa kita sadari sering lihat dalam kehidupan sehari. Foto still life banyak ditemui di sekeliling kehidupan kita di majalah, Koran, kalender, brosur maupun billboard di pinggir-pinggir jalan. Foto jenis ini sering menampilkan makanan, minuman ataupun benda mati lainya yang di komposisikan sedemikian rupa sehingga tampak menarik dipandang mata. Fotografi Still life identik dengan dunia komersial dan advertesing.


Difinisi still life photography
Kata still yang artinya diam atau mati, sedangkan life berarti hidup dalam konteks memberi ”kehidupan” pada benda tersebut. Still life photography dapat diartikan memotret benda mati tampak lebih hidup dan berbicara. Foto still life bukan hanya memindahkan objek kedalam sebuah foto, tetapi lebih dapat mengandung arti dengan pencapaian hasil foto yang lebih artistik dan bermakna.

Fotografi Still life dalam konteks funsional berupa pemotretan benda untuk tujuan pembuatan katalog, brosur, company profile, flyer dan iklan. Dalam hal ini, still life berfungsi sebagai iklan atau komunikasi visual dalam konteks komersial. Semua foto yang dibuat harus komunikatif; seberapa bagus desain barangnya, bagaimana fungsi barangnya dan diperuntukkan untuk kalangan siapa barang yang ada dalam foto tersebut.

Fotografi Still life dalam konteks ekspresif, foto still life dibuat sesuai selera, konsep dan emosi fotografer yang membuat foto still life tersebut. Seorang fotografer dapat mengekspresikan diri ke dalam fotonya.

3 unsur Dalam foto still life
1.       Pencahayaan
2.       Komposisi
3.       Properti
3 unsur ini dalam foto still life saling berkaiatan karena dapat memberikan kesan dan pesan yang mengidupkan sebuah karya foto still life. Penerapan teknik pencahayan dan komposisi yang menarik menambah nilai aristik dalam foto still life. Properti yang digunakan bertujuan menghidupkan point-of-interests.
Dalam fotografi still life Konsep atau rancang bangun atau story board sangat penting. Dalam still life, kita berhadapan dengan benda mati dan bagai mana mem-visualisasikan benda mati tersebut agar tampak lebih hidup. Dengan konsep kita merancang pemotretan dengan mempertimbangkan 3 unsur; pencahayaan, komposisi dan properti agar dapat menuangkan semua rasa yang kita presentasikan kepada benda. Konsep dalam foto bertujuan untuk memberikan sebuah "pesan" yang fotografer ciptakan kepada benda mati ini. Konsep mengandung unsur pesan yang akan kita sampaikan kepada audiens (yang melihat atau mengapresiasi foto still life tersebut). Dan dalam menyampaikan pesan tersebut, kita harus bisa menyamakan persepsi, atau rasa pembaca dengan persepsi kita. Hal ini dinamakan apresiasi dalam komunikasi visual yang berbentuk sebuah foto.
Sebuah kondisi dimana foto still life yang berhasil dengan memanfaatkan benda atau suasana. Dalam pemanfaatan benda, kepekaan fotografer dituntut untuk mengenali benda dari segi pencahayaan dan lain sebagainya. Namun dalam memanfaatkan suasana, fotografer harus bisa mengenali suasana seperti apa yang bisa dimanfaatkan untuk bisa mewakili ekspresi atau perasaan yang ingin kita tuangkan dalam foto tersebut.
                 











Read More

Sabtu, 07 Desember 2013

Stage & Concert Photography


Berbicara mengenai fotografi konser atau show apapun diatas panggung, bukanlah hal mudah. Malah cenderung sulit jika dibanding dengan landscape, portrait atau dan lain-lain. Berkejar-kejaran dengan kondisi gelap-terang dan lighting yang berganti-ganti warna, momen yang tidak terduga, jarak fokus yang cepat berubah-ubah dan lain-lain.
Itu baru masalah teknisnya. Sama pentingnya, adalah masalah non teknis. Semua pasti tahu, dibutuhkan pass / izin khusus untuk memotret konser besar. Bagaimana mendapatkannya? Dengan portfolio tentu saja. Tapi bagaimana bisa mendapat portfolio kalau tidak diberi kesempatan? Ini seperti kasus “ayam dan telur duluan mana”. Mari kita bahas pelan-pelan.

concert, Singapura 24 Agustus 2013. Siapa yang tidak mau punya portfolio seperti ini?
concert, Singapura 24 Agustus 2013. Siapa yang tidak mau punya portfolio seperti ini?

Hal Teknis

Untuk bisa sukses, dalam artian mendapat gambar bagus, anda harus bisa mengoperasikan kamera tanpa melihat (blindly). Jari-jari anda harus menjadi satu kesatuan dengan tombol-tombol di kamera. Gonta-ganti ISO, titik fokus, speed, aperture, harus dioperasikan secara cepat tanpa mata meninggalkan viewfinder. Kuasai kamera anda secara total!
Mode. Mode kamera apa yang terbaik dalam memotret konser? Dalam hal ini saya tidak bisa memberi jawaban pasti. Semua orang punya persepsi sendiri-sendiri. Kalau saya, cenderung memakai M / manual. Bukan manual focus ya. Alasannya? Pengukuran cahaya tidak mutlak. Misalnya, bisa saja spotlight yang datang dari berbagai arah (seperti backlight misalkan) menyebabkan metering kamera mengukur cahaya panggung secara pas, namun sang vokalis mungkin malah dalam keadaan under exposure.
Shutter Speed disini berperan lebih besar ketimbang Aperture. Terutama dalam konser rock. Saya tidak pernah menggunakan speed dibawah 1/200. Gerakan para personilnya yang enerjik sulit di-freeze dibawah 1/200. Malah tak jarang saya pakai 1/250. Ini akan menjamin anda akan mem-freeze movement.
ISO. Tak bisa dipungkiri, untuk jenis fotografi yang satu ini, kehandalan kamera dalam meng-handle ISO tinggi turut menjadi penentu. Keadaan stage yang biasanya dim-light, Speed tinggi, flash juga tidak diperbolehkan. Mau tak mau kita bergantung pada high ISO. Kenali baik-baik kamera anda. Jika ISO3200 noisenya amat parah, lebih baik pinjam kamera teman dulu.
White Balance. Sepenuhnya Auto. Saya selalu menggunakan RAW format karena warna lampu yang cenderung berubah-ubah. RAW memberi jangkauan yang jauh lebih luas ketimbang JPEG ketika diedit. Noise pun (sedikit) lebih halus.
Untuk tambahan, idealnya, saya selalu membawa dua bodi kamera. Satu untuk wide lens, satu untuk tele. Karena sangat tidak mungkin mengejar momen tapi masih mengganti-ganti lensa. Resikonya lensanya malah jatuh.

Jangan asal jepret, tunggu momen atau lighting yang asik. Terkadang flare malah bagus.
Jangan asal jepret, tunggu momen atau lighting yang asik. Terkadang flare malah bagus.

Kontras, white balance yang tepat dan kaya warna seperti ini sulit didapat jika bukan dalam RAW.
Kontras, white balance yang tepat dan kaya warna seperti ini sulit didapat jika bukan dalam RAW.

Hal Non Teknis

Nah ini yang tak kalah pentingnya. Malah bisa dibilang lebih penting. Saran utama saya, cobalah memotret konser-konser kecil didaerah sekitar dulu. Mungkin di kampus, band teman, atau acara-acara tertentu. Datangi panitianya, email, telepon, facebook, tawarkan pada mereka bahwa anda ingin berkontribusi untuk dokumentasinya secara sukarela. Jangan memikirkan profit dulu. Kumpulkan portfolio dulu dan atasi kesulitan yang dihadapi.
Be professional. Apalagi dengan band / artis yang telah memiliki nama. Tempatkan diri anda sebagai fotografer. Tidak usah merayu-rayu mengatakan anda adalah fans besarnya, sudah puluhan tahun menggandrungi bla bla bla… Cukup katakan anda seorang fotografer dan tujuan anda adalah memotret secara professional. Itu saja. You’ll get a lot of respect that way.
Jangan girang dulu setelah mendapat ijin. Tanyakan detailnya, Apa boleh memotret sepanjang konser? Banyak band besar yang hanya membolehkan fotografer untuk memotret hanya di tiga lagu pertama. Aksesnya kemana saja? Apakah boleh naik ke panggung? Bagaimana dengan backstage? Jangan sampai anda diusir keluar security dari venue karena kesalah pahaman kecil.
Hal lain yang penting ditanyakan juga; apakah Anda boleh memiliki dan meng-upload foto-foto hasilnya. Jangan kaget! betul bahwa fotonya adalah karya anda, tapi ini berkenaan dengan masalah copyright.
Banyak band besar yang tidak mengijinkan fotografer untuk tidak meng-upload online hasil fotonya, bahkan lebih ekstrim lagi, mewajibkan untuk menyerahkan memory card begitu konser selesai. Take it or leave it. Mangkanya, lebih baik, Tanya dulu.

Jika foto didominasi lighting merah, coba convert ke B/W. Warna merah akan menghasilkan B/W yang kontras dan ciamik .
Jika foto didominasi lighting merah, coba convert ke B/W. Warna merah akan menghasilkan B/W yang kontras dan ciamik .
Datang lebih awal. Bersiap lebih awal selalu lebih baik. Datangi manajernya, juga security. Say hello, siapa tau anda mendapat akses yang tak terduga. Tes lighting, check segala angle yang kiranya bagus, check semua setting kamera.
Last but not least, jangan lupa untuk berterima kasih setelah show selesai.
Salam hangat! Keep shooting!

konser-fotografi-metallica-singapura
All images are the exclusive property of Wisnu Haryo Yudhanto (www.flickr.com/lordwisnu)

Concert Photography



Concert Photography



Concert Photography



Concert Photography



Concert Photography




Concert Photography




Concert Photography





Concert Photography


Concert Photography




Concert Photography



Concert Photography







Concert Photography





Concert Photography




Concert Photography



Concert Photography



Concert Photography






Read More

About Me

Popular Posts

Designed By Seo Blogger Templates