hujan salju

Tampilkan postingan dengan label Amazing woman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amazing woman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Desember 2013

Nicoline Patricia,Fotografer Wanita Termuda Dan Terbaik Diindonesia

Profil Nicoline Patricia Malina – Beranjak remaja, Nicole, begitu perempuan 25 tahun ini disapa, paling hobi nonton film Perancis. “Aku tertarik dengan kehidupan, cara pikir, dan kebebasan yang mereka miliki. Sejak itu aku bermimpi pergi ke Eropa,” kenang anak pasangan dari Jack Bernard dan Fransisca Lanywati yang hobi menggambar ini.
Lewat kerja keras, tahun 2002, mimpi Nicole terwujud. Ia pergi ke Belanda, menekuni studi Fine Art di Hogeschool voor de Kunsten Utrecht, Belanda. Sambil mengisi waktu, Nicole menjadi penata rias lepas untuk para model, lalu bahkan menjadi model. Dari situ ketertarikannya pada kamera tumbuh. “Selama jadi model aku kenal banyak fotografer. Aku lihat kerja mereka ini asyik banget. Saat sedang break di lokasi pemotretan, aku mengajak mereka ngobrol soal fotografi.”
Dua tahun kemudian, Nicole bisa membeli kamera sendiri. Di sela kesibukan ia memotret kehidupan jalanan di Belanda dan bebrapa model agensi. Ia juga berusaha masuk ke lingkungan fotografi fashion dan mengirimkan kumpulan fotonya ke berbagai majalah fashion di Belanda. Sampai suatu hari di tahun 2006, Majalah Elle Belanda menghubunginya, “Mereka mengajakku kerja sama!”
Karyanya semakin cepat dikenal di Eropa (Amsterdam, Paris, Antwerp) setelah ia menjuarai Iconique Societas Excellence in Photography Award 2007. Nicole pun semakin mantap menyandang profesi barunya sebagai fotografer profesional.
Tahun 2008, Nicole kembali ke Indonesia. Butuh sekitar setahun buatnya untuk bisa beradaptasi dengan cara kerja dan selera pasar di Indonesia. Menurut Nicole, dalam segi fashion, Indonesia memiliki lebih banyak unsur yang bisa dieksplor, sedangkan di Eropa segala sesuatunya lebih simpel. “Orang Eropa lebih suka menekankan feel dan mood. Orang Indonesia lebih senang menekankan produk dan lighting.“
Sulitkan memantapkan posisi di kalangan fotografi yang didominasi kaum lelaki? “Yang pasti ada diskriminasi. Misalnya, soal harga.” Tapi Nicole tetap tak menyerah, “Aku tunjukin ciri khasku. Tipe fotoku lebih edgy dan seksi. Aku senang memotret perempuan yang terlihat kuat, enggak lembut-lembut amat. Dan saat memotret aku tidak terlalu mengandalkan hal-hal teknis, lebih impulsif-lah. Aku tidak senang membuat foto yang membingungkan orang. Simpel saja, tapi mampu membuat orang mau melihat karyaku lama-lama.”
Sekarang klien Nicole tak hanya dari Indonesia dan Eropa, tapi juga Singapura dan China. Ia juga bekerja sama dengan beberapa majalah fashion ternama yang ada di Belanda, Inggris, China, dan Indonesia. Dan entah sudah berapa banyak iklan yang ditanganinya. Beberapa di antaranya adalah Ponds, Lux, Clear, M Pacific Place, juga Class Mild.
Dengan berbagai karya yang sudah dihasilkannya ini, pantaslah kalau berbagai media dan lembaga memberikannya penghargaan seperti Young Photographer of the Year Award from ELLE Indonesia, Young Designer United Amsterdam, dan lain-lain.
Berikut beberapa hasil foto Nicoline Patricia Malina yang mendunia itu:
Foto Nicoline Patricia Malina di Bali
Foto Nicoline Patricia Malina foto di Borobudur
Foto Nicoline Patricia Malina di borobudur
Foto Nicoline Patricia Malina Borobudur
Foto Nicoline Patricia Malina pf-olgajtlh03
Foto Nicoline Patricia Malina antwerp01
Foto Nicoline Patricia Malina harpersskull01_1
Foto Nicoline Patricia Malina harpersskullopening
Foto Nicoline Patricia Malina harpers-sallyconcerto
Foto Nicoline Patricia Malina harpers-paintings
Foto Nicoline Patricia Malina harpersbazaartokyored
Foto Nicoline Patricia Malina 1
Foto Nicoline Patricia Malina Harpers tibet
Foto Nicoline Patricia Malina
Read More

Kisah Enny Nuraheni fotografer jurnalis wanita

Selama 22 tahun ia menjalani hidupnya bergelut dengan lensa dan kamera. Berita pertumpahan darah, olah raga, sampai kejatuhan ekonomi pernah ia abadikan melalui kameranya. Kepala biro foto Reuters untuk Indonesia ini menjelma menjadi otak dari strategi liputan foto Reuters. Wanita berusia 47 tahun tersebut mencatatkan prestasi dengan menjadi satu-satunya wanita di Asia yang menduduki jabatan tersebut.
Enny Nuraheni, ibu dari Andra (18) dan Cantyka (15), memulai perjalanannya di dunia fotografi dengan membantu kakak iparnya yang memiliki studio foto Tanzil. Selama lima tahun ia memotret untuk dokumentasi dan membantu iparnya mencetak foto di kamar gelap. Kebutuhannya untuk mencari tantangan baru lah yang menyebabkan ia berhenti dari sana.
Setelah lulus dari ABA (Akademi Bahasa Asing) tahun 1986, Enny lalu melamar pekerjaan ke biro Reuters Jakarta yang sedang membuka lowongan untuk posisi fotografer. Kala itu ia tidak mengerti caranya melamar pekerjaan. Dengan hanya bermodalkan kamera, ia nekat datang ke kantor Reuters. Daftar riwayat hidup (CV) tak ia bawa, apalagi membuat janji wawancara.
Namun, takdir berkata lain. Bos besar Reuters saat itu mau menemui Enny dan memberinya tugas. Ia diberi dua rol film untuk membuktikan keahliannya memotret. Enny ditantang untuk membuat foto yang menarik.
Naik turun bis kota, ia berkeliling Jakarta mencari obyek foto. Tak sampai tiga jam ia telah kembali ke kantor Reuters dan bersiap mencetak hasil fotonya di kamar gelap. Pengalamannya di studio foto lah yang membuat Enny unggul dari pelamar lain. Di saat orang lain masih mengandalkan studio foto komersial, ia sudah mampu memproses cuci cetak sendiri. Melewati tantangan itu, Enny diterima menjadi fotografer pertama biro Reuters Indonesia.
Di tahun 80-an kaum pria masih mendominasi dunia fotografi. Bahkan, hanya ada dua fotografer wanita saat itu. Maka Enny sempat kaget saat pertama kali ia turun ke lapangan. Untuk mendapatkan foto ia harus berdesak-desakkan dengan pria yang notabene lebih besar dan kuat. Tak heran jika foto pertamanya gagal karena goyang. Namun, berkat pengalaman ini Enny bertekad untuk selalu fight dan tidak kalah dengan para fotografer pria.
Karena Enny adalah satu-satunya wakil Reuters di Indonesia di bidang foto, ia harus berjuang sendirian hampir selama 7 tahun. Dari acara kepresidenan, Sea Games, pesawat jatuh sampai konflik di Timor-Timur harus ia liput. Namun, ada harga yang ia harus ia bayar mahal untuk komitmennya pada dunia ini. Sebagai seorang ibu, Enny harus kehilangan masa kecil anaknya.
Saat ia mengandung anak pertamanya, tahun 1989, ia tetap berkeliling ke kota-kota di berbagai pelosok Indonesia. Bahkan disaat-saat terakhir sebelum persalinan ia masih sempat meliput pertandingan bola dan kedatangan Yaser Arafat ke Indonesia.
Enny sering tak bisa hadir ketika dua anaknya membutuhkan kehadiran ibu mereka. Saat anaknya tergolek sakit ia tetap harus mendahulukan pekerjaannya dan terbang ke Sulawesi. Ketika meliput daerah konflik, ia terpaksa meninggalkan keduanya dalam jangka waktu yang lama. Bahkan ada masa ketika anaknya menolak disusui dan tidak mengenalinya.
Pengalaman ini tidak menghalangi Enny untuk tetap berkarya. Ia tetap menjaga kecintaannya pada fotografi sambil meneruskan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu.
Dalam meliput, wanita yang senang berbagi ilmu fotografi dengan juniornya ini kerap membawa-bawa kotak raksasa kemanapun ia pergi. Kotak ini berisi kamera, peralatan gelap dan transmiter. Itu karena ia masih harus mencuci cetak dan mengirimkan hasil fotonya setelah meliput. Kamar gelap pun terkadang harus ia bangun sendiri. Tak jarang, kamar mandi hotel ia jadikan sebagai kamar gelap.
Setelah mencuci-cetak Enny kemudian membuat caption foto dan mengirimkannya lewat telepon kabel ke kantor pusat yang berlokasi di Hongkong. Urusan kirim-mengirim foto ini juga sering membuatnya pusing. Saat itu semua peralatan masih manual, sehingga, jika sambungannya lancar, untuk mengirimkan satu foto saja bisa menghabiskan waktu 30 menit. Padahal, di daerah terpencil atau daerah konflik sambungan teleponnya sering tidak beres. Malah, ia pernah harus bolak-balik Bali-TimTim sembilan kali untuk mengirimkan fotonya karena waktu itu pihak militer memblokir line telepon.
Selama 15 tahun pengabdiannya sebagai fotografer, Enny banyak mendapatkan pengalaman unik. Ia pernah dimaki-maki petugas keamanan, tidur bergantung dihammock, tidak mandi berhari-hari di daerah bencana, hingga diberondong peluru. Namun, satu hal yang kerap membuatnya pusing adalah menembus birokrasi pemerintah. Apalagi saat sebelum reformasi, intelijen dan keamanan adalah dua pihak yang sulit untuk ditembus wartawan.
Pengalaman tak terlupakan Enny alami saat ia meliput di kota konflik di Timtim. Ketika ia sedang memotret para pengungsi di Timtim, tiba-tiba terdengar suara berondongan tembakan ke arah mereka. Spontan, Enny kemudian membantu para pengungsi, yang notabene ibu-ibu dan anak-anak. Ia bergotong royong memanggul para pengungsi di pundak untuk meloncati tembok. Kebetulan, gedung di sebelah mereka adalah markas UNAMED (lembaga bentukan PBB saat Timtim merdeka). Karena asyik membantu ia tidak sadar tertinggal sendirian di balik tembok. Setelah hampir 15 menit berteriak-teriak dan hampir putus harapan, barulah ada orang di balik tembok yang mendengar. Namun, walau berkali-kali mencoba meraih tangan si penolong, badannya tetap tak bisa merayap menaiki tembok setinggi 2 meter tersebut. Tapi entah bagaimana caranya, tiba-tiba ia bisa meloncat ke gedung sebelah. Bagi Enny peristiwa ini seolah tangan Tuhan sedang membantunya secara langsung.
Namun, terlepas dari semua peristiwa baik yang tidak mengenakkan maupun yang menyenangkan Enny merasakan kebanggaan yang dalam pada pekerjaannya. Hasil karyanya sering terpampang di surat kabar internasional seperti International Herald Tribune dan The Strait Times. Bahkan ia pun diberi kesempatan untuk memotret tokoh-tokohpowerful dunia seperti Ronald Reagan, Bill Clinton, George Bush junior dan senior hingga Gorbachev. Mereka semua pernah dibidiknya dari jarak kurang dari 3 meter.
Semenjak tahun 1993, satu minggu sebelum melahirkan anak kedua, Enny merekrut staf baru untuk Reuters. Sedang di 1998 ia mulai membuat jejaring di daerah. Saat ini, ia memiliki 5 anak buah di Jakarta (2 staf dan 3 stringer/kontributor, semuanya pria) dan puluhan stringer di berbagai ibukota provinsi di seluruh Indonesia.
Bagi Enny, foto berita berbeda dengan foto dokumentasi. Jika foto dokumentasi adalah foto pose, dimana semuanya telah diatur, foto berita adalah ekspresi dari si fotografer untuk mencipta. Mata, otak dan hati dituntut untuk bersinergi. Menurutnya ilmu itu harus diamalkan dan tidak boleh dimonopoli sendirian. Karena itu, ia sering terjun langsung mendidik anak buahnya di daerah-daerah. Ia ingin mereka bisa mendapatkan “angle” yang tepat dan mampu mandiri dalam mengolah Photoshop, mengedit, hingga memberi caption yang sesuai dengan kepribadian Reuters.
Kini untuk mendapatkan foto headline yang sesuai, Enny menempatkan 3-4 fotografer di titik-titik strategis yang berbeda. Hal ini dilakukan agar mereka dapat saling back-up bila salah seorang tidak mendapatkan hasil yang sesuai.
Eny sangat bangga karena dua anak didiknya kini telah menjadi “orang”. Yang satu menjadi fotografer paling andal di Timtim, sementara yang satu lagi mendapat penghargaan World Press Photo. Memang, mimpinya adalah melahirkan kader anak daerah yang berprestasi di skala internasional.

Read More

Catatan kecil Ibu Rusidah "Sang Fotografer Tanpa Jari"

Rusidah kehilangan kedua tangan ketika duduk di bangku sekolah dasar. Namun kata putus asa tidak pernah berada dalam kamusnya. Rusidah seolah tak ingin lagi bicara soal tangannya. Sekarang dia hanya berpikir bagaimana mengisi hidupnya ke depan.
Setelah menamatkan sekolah menengah pertama (SMP), Rusidah yang lahir dari keluarga biasa masuk panti rehabilitasi penyandang cacat di Solo, Jawa Tengah. Meski tak dikaruniai kedua tangan, ia justru memilih menekuni fotografi sebagai profesinya. Namun, karena tidak lagi punya jari tangan, Rusidah terpaksa memodifikasi sendiri kameranya.
Tekad dan semangatnya menjadi fotografer justru mendatangkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Beberapa kali Rusidah menerima bantuan peralatan fotografi dari pemerintah setempat.
Kamera yang kini dipakai Rusidah adalah pemberian Pemerintah Daerah Purworejo pada 1995. Berbekal bantuan stimulan itulah profesi Rusidah sebagai fotografer dimulai. Sejak itu masyarakat tahu kiprahnya.


Selain menerima panggilan untuk mengabadikan berbagai momen penting seperti pernikahan dan acara-acara di lingkungan kantor pemerintahan, Rusidah juga mengelola  studio kecil, di rumahnya di Desa Botorejo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo – Jawa Tengah.
Sejumlah pihak ternyata merasa puas dengan kinerja Rusidah. Karenanya ia menjadi juru foto tetap tim Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang dipimpin istri Bupati Purworejo. Nama Rusidah memang mulai dikenal.
Rusidah bukan hanya lihai mengoperasikan kameranya. Ia juga mampu melaksanakan berbagai tugas sehari-hari di rumah. Termasuk mempersiapkan anak semata wayangnya Nugroho berangkat sekolah.
Semangat Rusidah memang mengundang simpati. Beberapa kali Rusidah menerima bantuan peralatan fotografi. Meski sempat terpinggirkan akibat kemajuan teknologi fotografi yang demikian cepat, Rusidah mampu bangkit kembali. “Saya tak pernah merasa putus asa,” katanya.
Rusidah kini memang sangat menikmati pekerjaannya sebagai juru foto. Salah satu acara yang biasa ditunggunya adalah hunting foto atau berburu foto saat acara kirab di kampungnya. Dan cita-cita wanita berjiwa lapang ini tidak muluk-muluk. “Saya ingin punya studio foto di pinggir jalan,” kata Rosidah.
Maklum rumahnya yang sederhana dan berlantai tanah tidaklah representatif untuk usahanya ini. Juga dukungan finasial sang suami sebagai tukang es keliling tak kunjung mencukupi. Tapi ibu satu anak inipun tak pernah putus asa, ia terus bekerja, dan berjuang mewujudkan mimpinya.
Sumber: KickAndy.com, liputan6.com
Read More

About Me

Popular Posts

Designed By Seo Blogger Templates